Metro Pembaharuan, Surabaya – Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 : 1, Semua Warga Negara Berhak Mendapat Pendidikan. Maka dari itu tak terkecuali Warga yang berkebutuhan Khusus dan Disabilitas.

Unesa sebagai kampus inklusif yang telah menerima anugerah Inklusif Award sebagai kampus inklusif dari Mendikbud RI pada 2 September 2012, dan sejak Desember 2013 telah mendirikan Pusat Studi Layanan Disabilitas ( PSLD ) telah banyak melakukan kegiatan – kegiatan, salah satunya adalah pendampingan kepada sekolah – sekolah Inklusif dari SD – SMA.

Kemarin, 25 April 2018, di Gedung LP3M Kampus UNESA Lidah Surabaya diselenggarakan Talkshow tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Inklusi dan Disabilitas.

Bekerjasama dengan Pemprov Jaa Timur, acara ini ditajuk “Ensuring Acceess and Quality Education for Students with Disabilities in Indonesian Universities” dan sebagai nara sumber dihadirkan perwakilan dari Kemenristekdikti, Konsorsium Eropa, Pemprov Jawa Timur, Koordinator Project Manajer INDOEDUC4ALL Indonesia dan Kepala PSLD (Pusat Study Layanan Distabilitas) Unesa, serta Kepala Biro Humas, Protokol, dan Kerjsama Prov. Jatim Drs. Benny Sampirwanto, M.Si.

Dalam paparannya, Direktur Pembelajaran Kemenristek Dikti Dr. Paristiyanti Nurwardani, MP, menyampaikan bahwa, semua anak anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang sama, termasuk pada anak disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus/ABK.

“Berbagai upaya telah dilakukan oleh kementrian untuk pendidikan khusus baik berupa pelayanan maupun regulasi. Berbagai bimbingan teknis/bimtek dan pendampingan juga diberikan kepada perguruan tinggi dalam penerimaan anak disabilitas,” ucapnya.

“Selain itu, tahun ini Kemenristek Dikti telah menyiapkan beasiswa untuk 1000 mahasiswa/mahasiswi disabilitas mulai tingkat awal hingga lulus. Bagi para dosen kami mohon bisa melakukan reorientasi kurikulum khusus bagi mahasiswa disabilitas. Dan terimakasih bagi para relawan pendidikan inklusi,” imbuhnya.

Senada dengan itu, sebagai Narasumber perwakilan dari Pemprov Jawa Timur, Benny Sampirwanto menegaskan bahwa Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan pendidikan inklusi untuk bisa memberikan hak yang sama di bidang pendidikan pada anak disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus/ABK. Hal ini juga sejalan dengan program yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat tepatnya Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi/Kemenristekdikti.

“Kita saat ini masih dalam masa transisi, karena masih banyaknya sekolah luar biasa/SLB yang ada di Jatim. Saat ini progresnya cukup  bagus, hanya butuh proses,” ungkap Benny.

Menurutnya, penanganan ABK membutuhkan sinergitas dari berbagai pihak baik pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Kebersamaan ini adalah kunci keberhasilan dalam menangani dan memberdayakan anak-anak disabilitas.

Pemprov Jatim juga menyiapkan langkah terkait kesiapan anak disabilitas yang telah lulus dari perguruan tinggi  dalam memasuki dunia kerja. Salah satunya dengan memberikan pembekalan cukup bagi lulusan disabilitas sehingga bisa memenuhi kriteria perusahaan. Selain itu, juga melakukan pendekatan secara persuasif ke perusahaan untuk mau menerima lulusan disabilitas.

“Apalagi sekarang ada peraturan yang menetapkan bahwa setiap perusahaan tenaga kerjanya minimal 2 persen tenaga kerja disabilitas,” urainya.

Diruangan terpisah, Kepala PSLD Unesa Dr. Budiyanto, M.Pd mengatakan banyak program yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendidikan dan komunikasi bagi ABK. Karena, di Indonesia, tidak semua ABK bisa terfasilitasi dengan baik.

“Di luar negeri setiap kebutuhan khusus bahkan yang menyangkut emosi anak difasilitasi, di sini tidak. Yang difasilitasi yang sudah jelas ABK seperti tuna rungu, tuna netra, tuna grahita dan lainnya. Untuk itu, PSLD Unesa mengajak SMA inklusi, SMK inklusi maupun SMA Luar biasa untuk bisa mengubah asumsi masyarakat terhadap ABK. Bahwa pembelajaran ABK tak sekedar tentang keterampilan, tetapi juga bagaimana menyiapkan ABK agar bisa masuk ke perguruan tinggi,” terang Budiyanto.

Ada yang menarik dari acara tersebut yaitu penampilan dari dua anak tuna netra yang keduanya menyanyikan 2 buah lagu dengan suara merdunya. Penampilan yang pertama, membawakan lagu barat Power of Love dan Hero, M. Hibran dengan permainan keyborbord dan suara merdunya berhasil membuat merinding para hadirin dan disambut tepuk tangan meriah. Sedangkan penampilan yang kedua oleh Azam Nur Mukjizat yang dari lahir tidak memiliki bola mata. Azam menyanyikan 2 buah lagu, Rek Ayo Rek dan Tanjung Perak berhasil membuat suasana haru para hadirin bahkan tidak sedikit yang menitikkan air mata, salah satunya kru dari salah satu televisi Nasional. (nawi)

 

sumber : http://www.metropembaharuan.com/berita/detail/dua-penyanyi-tuna-netra-pukau-talk-show-tentang-pendidikan-abk-di-unesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *