“Mimpi kita ini adalah kampus Unesa betul-betul menjadi kampus yang inklusif. Tidak hanya jargon, tetapi harus benar-benar inklusif,” ujar Drs. Sujarwanto, M.Pd

Keberadaan Unesa sebagai kampus inklusif sampai saat ini masih belum banyak diketahui oleh banyak orang. Bahkan, warga Unesa sendiri pun, belum banyak yang tahu dan peduli terhadap keberadaan mahasiswa berkebutuhan khusus di Unesa. Padahal, Unesa telah menerima anugerah Inklusif Award sebagai kampus inklusif dari Mendikbud RI pada 2 September 2012 lalu. Hal inilah yang membuat PSLPD Unesa gencar mengenalkan keberadaan mahasiswa berkebutuhan khusus.

Semakin banyak orang tahu tentang penyandang disabilitas, semakin banyak pula yang akan peduli. Prof. Dr. Djodjok Soepardjo, M.Lit mengungkapkan bahwa komitmen dan kepedulian terhadap penyandang disabilitas akan diwujudkan dalam salah satu program kerja tahun 2016 tentang penelitian dan penalaran terkait Pendidikan Khusus.

Mimpi mewujudkan kampus Unesa sebagai kampus yang ‘benar-benar inklusif’ tentunya dapat dimulai dengan sarana dan prasarana yang aksesibel. Sehingga kampus Unesa menjadi kampus yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Selain itu awareness atau kesadaran harus dibangun. Ini memang perjuangan yang berat. Tetapi ketika Unesa telah mendeklarasikan diri sebagai kampus inklusif, maka semua pihak harus bergerak.

Aksesibilitas menjadi salah satu indikator yang penting. Sesuai dengan peraturan Menteri Pekerjaan Umum, infrastruktur harus aksesibel untuk penyandang disabilitas. Artinya, ada atau tidak ada  penyandang disabilitas, semua infrastruktur harus aksesibel.

PSLPD berkepentingan untuk mendorong semua pihak sadar akan hal tersebut, baik tataran pimpinan, dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Selain itu, pusat studi peyandang disabilitas ini juga terus berkomitmen dalam melakukan pendampingan kepada mahasiswa bekebutuhan khusus di Unesa, maupun anak berkebutuhan khusus yang memerlukan bantuan pendampingan.

Saat ini, 29 mahasiswa berkebutuhan khusus tengah menempuh pendiidkan di Unesa. Mahasiswa berkebutuhan khusus, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya akan terus didukung dan dikembangkan potensinya. PSLPD akan setia mendampingi mahasiswa berkebutuhan khusus di Unesa. Selain itu, pusat studi yang telah berusia dua tahun ini akan terus setia melayani masyarakat yang membutuhkan, terutama yang kaitannya dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Saat ini PSLPD Unesa memikili 90 relawan mahasiswa yang berasal dari fakultas-fakultas yang berbeda di Unesa. Meskipun, relawan yang aktif saat ini masih didominasi oleh mahasiwa dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Relawan PSLPD Unesa yang menyebut dirinya sebagai ‘Laskar Orange’ konsisten pada visi utama untuk dapat menyejahterakan penyandang disabilitas di Unesa melalui kegiatan pendampingan akademik dan non-akademik serta kegiatan advokasi.

“Pendampingan yang dilakukan PSLPD sangat membantu, tertama pendampingan skripsi dan UAS. Untuk relawan PSLPD, meski jumlahnya tidak banyak, yang penting adalah keihklasannya, bukan jumlahnya,” tutur Shofi Isa Anshori, mahaiswa tunanetra jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Disamping PSLPD menginisiasi kampus Unesa supaya benar-benar menjadi kampus yang inklusif, juga membangun kompetensi mahasiswa non akademik. PSLPD menjadi ajang bagi para mahasiswa yang mengikrarkan diri sebagai relawan untuk mengasah sense of social, yakni bagaimana peduli dan melayani orang lain.

Koordinator PSLPD Unesa, Drs. Sujarwanto, M.Pd mengungkapkan bahwa mahasiswa yang hebat adalah mahasiswa baik dalam akademik dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap sekitarnya. Menjadi relawan PSLPD harus memiliki komitmen tinggi dan menata hati untuk orang lain. Selain itu juga manajemen waktu, kapan untuk akademik dan kapan untuk PSLPD.

“Jika akademik bagus, sense of social terus diasah, saya yakin para relawan PSLPD ini akan menjadi orang-orang yang hebat,” ungkap Dekan FIP ini. (lina mezalina)

Tinggalkan Balasan ke Anonim Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *