IMG_1052Ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus dari “University of Tsukuba”, Jepang, Prof Hideo Nakata PhD, menilai sekolah inklusi di Indonesia sudah bagus, karena aplikasi pengajaran yang diterapkan berstandar internasional.

“Sekolah inklusi di Indonesia lebih bagus, karena sudah mengaplikasikan standar internasional,” katanya di sela-sela seminar dan Lesson Study Internasional ke-XII di Auditorium Gedung PPG Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Lidah Wetan, Surabaya, Sabtu (10/5).

Di sela-sela seminar yang diselenggarakan Pusat Studi dan Layanan Penyandang Disabilitas (PSLPD) Unesa bersama Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa itu, ia menegaskan bahwa negara lain juga menerapkan sekolah inklusi dengan permasalahan yang selalu ada.

“Pendidikan inklusi (proses penggabungan siswa penyandang disabilitas dan siswa normal dalam satu kelas) juga ada di Jepang, Amerika, Eropa, dan negara lain,” katanya dalam seminar yang dihadiri 470-an guru sekolah inklusi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Dalam seminar yang juga menampilkan pembicara lain, Nobuaki Yabe (Saitama Prefectural, Jepang), dan Dr Mudjito Ak. MSi (Dirjen PPK-LK Dikdas Kemdikbud), ia mengatakan seminar internasional itu penting untuk berbagi pengalaman dalam permasalahan sekolah inklusi pada setiap negara.

“Di Jepang, siswa penyandang disabilitas di sekolah itu mendapatkan dua pendamping yakni guru bantu di kelas dan ‘suporter’ yang membantu ke toilet, berjalan dengan kursi roda, mengetik omongan guru pada pada laptop untuk dibaca siswa tuna rungu, dan sebagainya,” katanya.

Para ‘suporter’ itu digaji pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. “Kira-kira gaji mereka adalah Rp10.000 per jam. Mereka umumnya berlisensi guru juga yang mendaftar setelah melihat pengumuman yang diiklankan pada koran,” katanya.

Namun, katanya, ada juga sekolah yang menolak siswa disabilitas. “Kalau seperti itu pasti ramai, karena masuk koran, sehingga sekolah akan dikritik banyak orang, sebab siswa disabilitas itu akan menjadi perhatian masyarakat di sekitar sekolah itu,” katanya.

Apalagi, masyarakat Jepang memiliki prinsip tidak boleh anak dalam kondisi apapun diabaikan dalam pendidikan. “Bahkan, anak yang hanya hidup terbaring dengan infus pun harus mendapatkan perhatian dalam pendidikan,” katanya.

Dalam pengalamannya, siswa penyandang disabilitas itu juga bisa memiliki prestasi yang luar biasa, di antaranya seorang penyandang tuna netra yang dikenal karena keahliannya memainkan piano, atau anak autis yang ahli menggambar, atau penyandang tuna daksa yang menjadi guru dan penulis buku.

“Karena itu, saya menyarankan pentingnya ‘teacher training’ untuk peningkatan kompetensi guru inklusi di Indonesia, termasuk latihan guru-guru untuk membuat karya tulis atas apa yang dilakukan atau dialami dalam mengajar anak-anak penyandang disabilitas untuk dimanfaatkan orang lain atau guru lain,” katanya.

Dalam seminar itu, ratusan peserta juga menyaksikan praktik pembelajaran olahraga (pendidikan jasmani adaptif) dan sains untuk siswa penyandang tuna grahita dan autis, lalu berdiskusi dan mendapatkan informasi “lesson studi” dari para ahli (Jepang).

“Seminar dan Lesson Study itu merupakan kegiatan rutin kami dari PLBĀ (pendidikan luar biasa) sejak tahun 2009, bahkan sejak Desember 2013 dibentuk PSLPD Unesa untuk melakukan pendampingan sejumlah sekolah inklusi, siswa disabilitas peserta ujian nasional (UN), dan pelatihan-pelatihan, seperti SIBI (sistem isyarat Bahasa Indonesia),” kata Humas Seminar dan Lesson Study ke-12. (*Lina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *